Derita Korban Tsunami setelah Tiga Tahun Rehab-Rekon Aceh (3)

Optimisme BRR dan Problem Manusia Barak


Kemarin, 26 Desember 2007, tepat tiga tahun proses rehab-rekon berlangsung di Aceh. Ada banyak kemajuan yang dicapai. Ada juga kekurangan. Apa parameter yang digunakan untuk mengukurnya. Inilah kacamata para pengamat mengenai proses pembangunan kembali daerah bekas tsunami itu.

MARDANI MALEMI/ANSARI HASYIM, Banda Aceh

DETIK-DETIK peristiwa bencana tsunami 26 Desember 2004 lalu, kemarin diperingati untuk ketiga kalinya. Puluhan ribu warga Aceh larut dalam untaian doa dan air mata mengenang kepergian sanak saudara, kerabat yang meninggal dalam peristiwa tiga tahun silam itu. Prosesi itu berlangsung di meunasah, mesjid hingga di kuburan masal.
Tapi, seremonial ini belumlah memberi arti penting bagi sebagian korban yang selamat dari musibah itu. Setidaknya, ini dirasakan oleh empat ribu lebih korban tsunami di Aceh yang masih tinggal di pengungsian. Kondisi ini pula yang membuat sejumlah pihak di Aceh masih terus menyuarakan keprihatinannya atas kinerja BRR Aceh-Nias.
 "Memang ada hal-hal yang kita cermati bahwa banyak kemajuan yang telah dicapai oleh BRR dalam masa tugasnya. Tapi, ini bukan menjadi sebuah ukuran keberhasilan yang dapat dibanggakan," kata Ketua Komisi A DPR Aceh Khairul Amal.  
Bagi politisi FPKS ini, yang dikatakan sebuah keberhasilan BRR bisa dipandang dari banyak sudut. Salah satunya adalah adanya kondisi dimana tidak ada lagi korban tsunami yang tinggal di barak-barak pengungsian. "Ini semestinya yang menjadi ukuran kita menilai BRR sudah berhasil menjalankan tugasnya di Aceh," tukas Amal.
Menurut Khairul, untuk ukuran tiga tahun, apa yang telah dilakukan BRR masih menyisakan banyak pertanyaan bagi sebagian pihak. Disatu sisi, ada banyak infrastruktur yang hancur pascatsunami kini sudah dibangun kembali BRR. Tapi, tidak untuk pembangunan rumah bagi korban.
Misalkan saja, kata dia, persoalan pembangunan rumah warga Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala yang sempat memunculkan reaksi penolakan masyarakat setempat. Ratusan rumah bantuan Bakrie Brothers Group itu dinilai tidak layak huni karena dibangun dari bahan asbes dan berpotensi mengganggu kesehatan warga.
Masalah ini hingga sekarang belum menemukan solusi kongkret dari BRR. Bahkan sekitar dua unit rumah di kawasan itu sempat dibakar warga sebagai bentuk kekesalan atas sikap BRR yang tidak mengakomodir aspirasi warga yang meminta dibangun kembali ratusan rumah di kawasan itu sesuai dengan standar.
Dia menyebutkan, konflik semacam ini masih terjadi dan BRR harus ikut bertanggung jawab mencari solusinya. "Banyak mereka korban tsunami yang datang ke DPRA dan melaporkan keluhan mereka terhadap apa yang mereka alami di barak-barak pengungsian," ungkapnya.
Terkait pemenuhan kebutuhan dasar ini juga diungkapkan akademisi Unsyiah, Dr Mawardi Ismail SH M Hum. “Bila ini tidak bisa dipenuhi, saya khawatir ini akan menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat korban karena mereka merasa tidak diperhatikan," kata Dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala itu.
Pascatsunami memang diakui banyak bangunan-bangunan baru berarsitektur mewah dan konstruksi fisiknya dibangun tahan gempa. Menurut Mawardi ini merupakan bagian dari nikmat yang harus disyukuri masyarakat Aceh kendatipun harus dengan mengorbankan ratusan ribu korban nyawa.
Menurut akademisi Unsyiah itu, Aceh setelah tiga tahun tsunami telah menjadi sebuah daerah yang terbuka dan dikenal dunia. Namun, hal ini tidak sejalan dengan apa yang terjadi di tengah masyarakatnya yang hingga kini masih ditemukan berbagai persoalan.
Menurut penilaiannya, ukuran keberhasilan pembangunan di Aceh pascat sunami dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat korban. "Kalau masih ada dampak yang terlihat dari bencana ini seperti halnya ada para pengungsi yang masih menghuni barak itu belum dikatakan berhasil," jelasnya.
Meskipun demikian Mawardi mengakui ada kemajuan yang dicapai BRR apabila dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya. Tapi, hal tersebut dinilai belum cukup.
"Semestinya tiga tahun setelah tsunami, di Aceh tidak ada lagi korban yang tinggal di barak. BRR sudah dapat membebaskan berbagai persoalan yang terkait dengan pengungsi dan untuk kemudian fokus untuk persoalan lainnya. Misalkan terkait dengan penyerahan asset," tukasnya.
            Kritik yang tak kalah keras dilontarkan Aktivis Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Akhiruddin Mahyuddin.
”Saya tidak bisa mengatakan apakah BRR sudah berada di jalan yang benar atau salah. Tapi, setelah tiga tahun tsunami, saya harus jujur mengatakan bahwa rehab-rekon belum memuaskan. Masih banyak hak-hak dasar korban tsunami belum terpenuhi. Penghuni barak masih banyak dan rumah belum terselesaikan seluruhnya,” kata dia.
Terlalu banyak persoalan dan kekeliruan yang dilakukan BRR bila dihitung satu- persatu. Rumah yang tak layak huni akibat ketidaksesuaian spesifikasi, berbahan asbestos yang membahayakan kesehatan, hingga penipuan publik yang dilakukan BRR.
Udin – pangilan akrab Akhiruddin -- pun mencontohkan pembangunan 50 unit rumah di Gampong Peulanggahan, Banda Aceh, yang diklaim BRR telah selesai pembangunannya. Tapi ternyata kenyataan di lapangan tidak demikian adanya. Padahal, BRR sendiri menargetkan tahun 2007 seluruh rumah bagi korban tsunami akan siap.
Memasuki masa injure time, berakhirnya tugas BRR April 2009,  dia pesimis bahwa perubahan akan tercapai. ”Akan banyak hal yang tidak akan terselesaikan sampai masa tugas BRR berakhir,” ujarnya. Termasuk, pembangunan jalan Banda Aceh-Calang-Meulaboh. ”Waktu satu tahun tidak mungkin pembangunan jalan itu selesai.”
            Aktivis low profile ini pun akhirnya hanya bisa menyarankan agar pemerintah daerah (Pemda) segera membicarakan hal itu dengan pihak BRR, mengantisipasi terjadinya hal yang tidak dinginkan tersebut. Udin mewanti, jangan sampai ”limbah dan sampah” yang ditinggalkan BRR menjadi masalah bagi Aceh di kemudian hari.
”Kalau itu terjadi, akan perlu banyak uang untuk menyelesaikan ’sampah-sampah’ peninggalan BRR, dan itu tentu akan sangat merugikan Aceh,” ujar dia.  
Namun, Asisten IV Setda Aceh Usman Budiman melihat dari kacamata yang berbeda. Menurut Usman, banyak kemajuan yang telah dicapai selama proses rehab-rekon, meski diakuinya, ada hal-hal yang tidak akan dapat diselesaikan oleh BRR.
”Perlu diingat, berakhirnya masa tugas BRR, bukan berarti pembangunan akan terhenti. Pembangunan akan dilanjutkan oleh pemda. Negera asing juga telah menyatakan tidak akan pergi dari Aceh hingga tahun 2012 mendatang. Jadi, hampir bisa dikatakan tak ada yang perlu dirisaukan menjelang berakhirnya tugas BRR di Aceh,” ujar dia.
Selama proses rehab-rekon berlangsung, beberapa kemajuan telah tercapai, seperti pembangunan beberapa pelabuhan laut di Meulaboh, berkapasitas 4 ribu dbt hingga 9 ribu dbt. Dan terakhir nantinya akan dibangun pelabuhan di Calang dengan kapasitas 9 ribu dbt yang akan bisa dilabuh oleh kapal dengan bobot 9 ribu ton.
Selain itu pembangunan Bandara Cut Nyak Dhien di Meulaboh yang kini bisa didarati pesawat jenis Casa 37-200. Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, yang masih dalam tahap pengerjaan, yang apabila selesai akan mampu didarati pesawat Jumbo Jet atau Boeing 747.
Soal kemungkinan BRR tidak akan dapat menyelesaikan seluruh kebutuhan rumah bagi korban tsunami, dia menyatakan, pemda bisa jadi akan mengambil alih hal itu, tapi dibutuhkan keakuratan data atas klaim tersebut.
Selama ini, paling tidak ada tiga lembaga yang membangun rumah untuk masyarakat Aceh, pertama rumah untuk korban tsunami, hal itu ditangani oleh BRR, kedua, rumah bagi korban konflik, oleh BRA, dan rumah untuk kaum dhuafa, pembangunannya ditangani pemda melalui Dinas Pemukiman.
”Saya pikir, kalau berpijak pada prinsip satu kepala keluarga mendapatkan satu rumah, kebutuhan rumah telah mencukupi. Tapi, kenyataannya, ada beberapa kepala keluarga yang waktu tsunami terjadi tidak tinggal di daerah itu, kemudian pindah ke sana setelah tsunami, ini adalah kenyataan, ” ujarnya.
Usman mengakui tentang berbagai kejanggalan dalam proses rehab-rekon. ”Kenyataan memang, rumah yang dibangun oleh satu NGO, berbeda dengan NGO lainnya. Ini tentu dapat menimbulkan kesenjangan,” sebutnya.
Seharusnya, kalaupun tidak bisa membangun dengan tipe atau model yang sama, seharusnya, spesifikasi bahan yang digunakan bisa sama, sehingga tidak menimbulkan kesenjangan dalam masyarakat korban tsunami.
”Ada perumahan yang dibangun, tapi belum tuntas, atau rumah bocor, atau lingkungan yang belum layak huni. Ini semua memang kenyataan. Tapi, semuanya butuh proses dan kedewasaan berfikir dan jangan sampai kata-kata terima kasih tidak terucap untuk mereka yang selama ini telah banyak membantu Aceh,” ujarnya.
Terhadap nasib korban tsunami yang masin tinggal di barak-barak pengungsian, Usman mengharapkan agar BRR dapat menurunkan sedikit saja kriteria penerima rumah bantuan. ” kalau tidak, maka sampai kapanpun manusia barak itu tidak akan teratasi,” ujar Usman berharap.
Juru Bicara BRR Aceh Nias Mirza Keumala juga tak bisa menerima sepenuhnya kritik miring itu. "Kita harus melihat dari sudut mana dulu kalau ingin mengatakan BRR itu lamban. Bila dibandingkan dengan bencana yang dahsyat begini tentu tidak mudah untuk menjalaninya," ujarnya.
Meskipun demikian pihaknya dapat menerima kritikan itu sebagai bagian dari cemeti buat BRR memacu kinerjanya. "Tugas BRR kan belum berakhir di Aceh. Ada dua tahun lagi buat kita untuk menyelesaikan terhadap persoalan yang selama ini belum selesai," kilahnya.
Dia menyebutka,n tiga tahun tsunami adalah momen di mana BRR berbuat dan menatap ke depan. Semua pihak harus merapatkan barisan untuk menyongsong Aceh baru yang lebih baik. Terutama dengan meningkatkan sektor ekonomi masyarakat dan mendorong kehadiran investor di Aceh.
Mirza memaparkan sejumlah kemajuan yang telah dicapai lembaga itu. Antara lain, rumah yang telah dibangun selama tiga tahun tsunami oleh pemerintah (BRR), NGO, dan negara donor berjumlah 107.000 unit di Aceh dan Nias. Begitu juga dengan fasilitas sekolah, rumah sakit, jalan, bandara dan lainnya.
Namun, dia juga mengakui hingga kini masih ada sebanyak 4.149 kepala keluarga korban tsunami yang masih tinggal di barak-barak pengungsian. "Sebagian mereka adalah para penyewa," kata Mirza.
April 2008 ini, BRR secara perlahan akan menghentikan proses pembangunan fisik dan akan fokus pada proses transisi, termasuk penyerahan aset yang telah dibangun kepada Pemda Aceh. “Kalau ada korban yang memang rumahnya belum dibangun boleh melaporkan kembali kepada BRR. Kita akan coba usahakan membangunnya," tandasnya. (27/12/2007)




Categories:
Similar Videos

0 comments: